Selasa, 01 Desember 2009

Debat Antar Agama Kristen-Islam

Michel Hoebink

04-05-2009

Koran en bijbel.jpgPengkhotbah asal Kanada Shabir Ally beberapa saat sialm berada di Belanda untuk memberikan beberapa ceramah dan debat. Lawan debat pertamanya adalah Pendeta Ben Kok, warga Belanda keturunan Yahudi.

Januari lalu ia melambai-lambaikan bendera Israel dalam sebuah demonstrasi menentang aksi Israel di Gaza.

"Kata 'bulan' muncul tepat 12 kali dalam Al Quran, kata 'hari' muncul tepat 365 kali," kata Shabir Ally. "Tidak mungkin Nabi Mohammad mengarang semua ini." Bagi Ally ini membuktikan bahwa Al Quran adalah mukjizat dari Tuhan.

Shabir Ally membawakan sebuah acara TV tentang tafsir Al Quran di Kanada. Ia terkenal sebagai orang yang aktif dalam berbagai perdebatan antar agama. Beberapa video di internet menunjukkan kepiawaiannya dalam berbagai debat untuk menunjukkan kelemahan Agama Kristen atau keunggulan Agama Islam.

Malam itu, Ally tampil sebagai pembicara di Universitas Islam Rotterdam (IUR) tentang perdamaian dan kekerasan dalam Al Quran dan Injil.

Sebelumnya panitia penyelenggara kesulitan menemukan orang yang beragama Kristen untuk berdebat tentang topik sensitif seperti itu. Tapi akhirnya Ben Kok dari Amersfoort bersedia untuk berdebat. Ia adalah orang yang ramah dan sangat membela ajaran Agama Kristen dan Yahudi. Kok menganggap Islam sebagai ancaman terhadap perdamaian dunia.

Pada 2007 ia melakukan protes atas pendirian sebuah masjid di Amersfoort. Saat perayaan pembukaan masjid, ia terbang dengan pesawat kecil dan membawa spanduk bertuliskan "Yesus adalah satu-satunya jalan ke Allah Bapa'. Januari lalu ia terlihat di Amsterdam melambai-lambaikan bendera Israel di tengah para demonstran yang menentang aksi Israel di Jalur Gaza

Lebih autentik
Tema pertama yang diperdebatkan adalah kitab suci mana yang lebih autentik. Shabir Ally berpendapat Al Quran adalah satu-satunya kitab suci yang bisa dipercaya. Buktinya adalah Al Quran mengandung berbagai informasi tentang sejarah, masa depan dan penemuan ilmiah, misalnya tentang pertumbuhan janin. Ini adalah sesuatu yang tidak mungkin dikarang Nabi Muhammad.

Sementara itu Kok berpendapat Al Kitab adalah satu-satunya kitab suci yang autentik. "Alasannya sederhana saja", kata Kok. "Injil itu benar. Saya sudah mempraktekkanya selama 40 tahun selama hidup saya dan semuanya benar." Menurut Kok, Al Quran tidak mungkin benar karena tidak memberikan kebebasan kepada orang untuk percaya terhadap apa yang mereka mau. "Lihat saja Taliban di Afganistan dan juga apa yang terjadi di Arab Saudi".

Ayat-ayat kekerasan
Pernyataan Kok disambut dengan berbagai protes dari hadirin yang kebanyakan Muslim. Shabir Ally meminta agar hadirin tenang. Ia berkata Ben Kok seharusnya tidak menyamaratakan antara ajaran Islam dengan perbuatan orang-orang sesat yang mengatasnamakan Islam.

Ben Kok mengakui orang Kristen juga telah menyalahgunakan ajaran agama mereka untuk hal-hal buruk. Tapi, ia tetap bersikeras bahwa Al Quran lebih bahaya dari Injil. Sekurang 164 ayat mengajarkan kekerasan. Yang paling terkenal adalah (9:5: "...bunuhlah orang-orang kafir di manapun ia berada..".

Ia kemudian bertanya,"Bukankan tujuan Islam adalah menaklukkan dunia dan memaksa semua orang untuk memeluk Islam?"

Shabir Ally menyatakan ayat-ayat tentang kekerasan seperti ayat 9:5 harus dipahami dalam konteks sejarah. Pemeluk Agama Islam awalnya ditindas oleh musuh mereka Warga Mekkah. Jadi, Nabi Muhammad mengijinkan mereka membunuh sebelum mereka dibunuh.

"Tapi secara prinsip, Al Quran mengajarkan kepada pemeluknya untuk memilih jalan damai," kata Ally. Ia menambahkan Yesus Kristus dalam Injil juga bukan seorang Pasifis (pecinta damai). "Dalam Kitab Wahyu, Yesus kembali sebagai seorang prajurit. Ia membunuh lawan-lawannya. Bajunya penuh darah."

Polemik Agama
Ben Kok yang sesaat sebelumnya bersikeras bahwa inti Ajaran Injil adalah 'cinta, cinta dan lebih banyak cinta', naik darah. "Tentu saja, saat Yesus nanti kembali ia akan datang sebagai raja. Banyak yang tidak rela, jadi ia akan memaksa dunia untuk mendengarkannya. Ia akan menghancurkan setiap perlawanan. Ia ingin menciptakan dunia yang sempurna. Jadi, tidak ada tempat untuk para pemberontak."

Para hadirin tidak ada yang bertanya. Sebenarnya kedua belah pihak berada pada posisi yang sama. Seorang peserta menyimpulkan, "kalau Yesus punya hak untuk melakukan itu. Maka Nabi kami juga punya hak yang sama pada abad ke 6 lalu."

Secara keseluruhan debat di Rotterdam ini tidak jauh berbeda dengan berbagai polemik agama yang mudah ditemukan di internet. Warga Muslim Belanda Kamal Essabane menulis dalam situs wijblijvenhier.nl, "melihat debat seperti itu sangat menyenangkan. Kita tinggal duduk di depan layar komputer sambil makan snack dan melihat siapa yang bakal menang."

Tapi, pada akhirnya Essabane menyatakan hal itu sama sekali tidak memuaskan. "Polemik itu sehat asal mengandung kebenaran. Kebanyakan debat seperti ini bisa mengaburkan nilai keagamaan," tulisnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar